BERITA

ASURANSI PERTANIAN LINDUNGI PETANI DARI KERUGIAN "SHARE BERITA INI"

person access_time7 hours ago chat_bubble_outlineKOTA BANDA ACEH

SEBAGIAN petani di Aceh sudah mulai merasakan manfaat Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP). Dengan kondisi cuaca yang tidak menentu, mereka tidak perlu was-was lagi dengan risiko budidaya padi yang dibayang-bayangi gagal panen. Dengan hanya membayar premi Rp 36.000 per hektare dalam sekali musim tanam, nilai pertanggungan yang diperoleh sebesar Rp 6 juta jika mereka gagal  panen. Dengan demikian, petani bisa memperoleh modal kembali untuk siap-siap menanam pada musim tanam berikutnya.

Menurut Kasi Sarana Prasarana Tanaman Pangan Hortikultura Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Aceh, Rizal Fahlevi SP, premi yang dibayarkan petani tersebut tergolong  murah. Maklum saja, sisanya atau sebesar Rp 144.000 ditanggung oleh pemerintah. Dengan subsidi hingga 80 persen oleh pemerintah itu, tentu membuat petani sangat terbantu.

Namun, meskipun program subsidi asuransi ini memberikan banyak manfaat, belum banyak petani di Aceh yang tertarik pada program tersebut.  Hingga tahun ketiga, realisasi di lapangan belum sesuai dengan harapan. Dari luas lahan total sawah Aceh sekira 307.000 hektare, belum sampai 5 persen usaha tani yang dijalankan mendapat program perlindungan asuransi.

“Masyarakat kita terdiri atas berbagai budaya dan karakteristik. Sebagian petani masih memperdebatkan kehalalan dari segi syariah. Inilah tantangan dalam sosialisasi AUTP,” tandas Rizal dalam wawancara khusus dengan kru tabloid Haba Tani diKantor Distanbun Aceh, Banda Aceh, pekanlalu.

Rizal mengakui bahwa, saat ini belum semua petani mendapat informasi memadai terkait manfaat AUTP. Pihaknya juga memiliki keterbatasan menginformasikan, mengingat wilayahnya di seluruh Aceh dengan berbagai kendala geografis. Kalaupun dilakukan sosialisasi, paling SEBAGAI pihak yang lebih dekat dengan petani, penyuluh diharapkan menjadi salah satu ‘aktor’ penting yang lebih aktif menyampaikan informasi Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) kepada petani. Sedangkan Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Aceh sudah menyosialisasikan informasi ini, baik secara langsung atau tidak langsung. Namun, dalam praktiknya, mungkin tak semua informasi sampai ke petani secara langsung. Kasi Sarana Prasarana Tanaman Pangan Hortikultura Distanbun Aceh, Rizal Fahlevi SP, mengatakan, pada pertengahan tahun 2018 ada penguatan AUTP di 10 kabupaten/kota di Aceh. Sebanyak empat kabupaten yaitu Aceh Besar, Pidie, Aceh Timur, dan Aceh Tamiang, sudah dilaksanakan sebelum puasa. Direncanakan, bulan depan pihaknya akan menyisir wilayah barat dengan mengundang langsung PT. Jasindo, sebagai perusahaan asuransi yang ditunjuk pemerintah melaksanakan program itu. Dengan ada upaya yang lebih maksimal tersebut, pihaknya manargetkan cakupan asuransi hingga 6.000 hektare pada tahun ini. Selain AUTP, Distanbun juga punya berbagai program. Dibidang sarana dan prasarana lebih fokus pada perluasan Asuransi Pertanian Lindungi Petani dari Kerugian “Masyarakat kita terdiri atas berbagai budaya dan karakteristik. Sebagian petani masih memperdebatkan kehalalan dari segi syariah. Inilah tantangan dalam sosialisasi AUTP.”-- RIZAL FAHLEVI, Kasi Sarana Prasarana Tanaman Pangan Hortikultura Distanbun Aceh Penyuluh Harus Jadi “Aktor” Penting dalam Sosialisasi AUTP fasilitas kredit yang dijamin oleh pemerintah melalui usaha segmen mikro, kecil, menengah, maupun koperasi yang masih unbankable. “Pada akhir bulan April lalu disampaikan oleh pusat ke kami bahwa ini merupakan program kerja sama dengan bank. Akan ada tenaga fasilitator petani swadaya yang sudah dilatih oleh Kementerian Pertanian untuk menjembatani. Untuk Aceh ada 32 orang. Mereka yang akan mendampingi petani di masing-masing wilayahnya, menghubungkan dengan sumber pembiayaan yakni bank. Program ini masih baru,”tandasnya.(*) banyak dua kali dalam setahun. Itupun sebagian besar informasi ditujukan kepada kelompok tani, sekretaris,dan bendahara kelompok. “Pihak yang diharapkan berperan aktif adalah penyuluh. Bahkan di sela-sela menyuluh budidaya tanaman lain seperti cabai atau jagung, AUTP ini bisa disosialisasikan kepada petani,” tandasnya.

Untuk kawasan Barat, ada beberapa kabupaten yang menjadi perhatian Distanbun Aceh yakni Aceh Jaya, Aceh barat, Abdya, dan Aceh Selatan. Hanya saja, sampai saat inirealisasinya belum sesuai harapan. “Masih harus diarah kan agar bersedia menerima program pemerintah melalui AUTP. Petani juga harus mau mengajak petani lainnya agar bersedia mengikuti program tersebut,” tuturnya.

Perubahan kebijakan Mengingat Aceh saat ini masih menjadi perhatian besar Pemerintah Pusat seperti halnya provinsi lain, Rizal berharap masyarakat atau petani seharusnya merespons dengan baik program tersebut. Boleh jadi dalam beberapa tahun ke depan pemerintah menghapuskan kebijakan subsidi untuk premi asuransi ini. Apalagi di daerah lain lebih berhasil dibanding Aceh, terutama di Pulau Jawa yang lebih banyak petani penggarap, sedangkan di Aceh lebih banyak petani pemilik lahan.

Saat ini pun kuota untuk Aceh terus menurun. Jika pada awal program ini atau tahun 2016 kuota Aceh mencapai 30.000 hektare, tahun 2017 menjadi 10.000 hektare, dan di tahun 2018 turun lagi menjadi 8.000 hektare. Penurunan kuota ini setelah pusat mengevaluasi dan ternyata hanya sedikit uang subsidi yang terserap dalam realisasinya.

“Ketika pemerintah pusat melihat bahwa beberapa provinsi sudah berhasil, tentu saja program ini akan ditarik kembali dan digantikan dengan program lainnya. Saya khawatir, apabila tidak berlanjut, akan dialihkan ke program lain yang lebih produktif, maka petani harus membayar full, yakni per hektare mencapai Rp 180.000, sementara saat ini hanya Rp 36.000,” tandasnya.(*)

SEBAGAI pihak yang lebih dekat dengan petani, penyuluh diharapkan menjadi salah satu ‘aktor’ penting yang lebih aktif menyampaikan informasi Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) kepada petani. Sedangkan Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Aceh sudah menyosialisasikan informasi ini, baik secara langsung atau tidak langsung. Namun, dalam praktiknya, mungkin tak semua informasi sampai ke petani secara langsung.

Kasi Sarana Prasarana Tanaman Pangan Hortikultura Distanbun Aceh, Rizal Fahlevi SP, mengatakan, pada pertengahan tahun 2018 ada penguatan AUTP di 10 kabupaten/kota di Aceh. Sebanyak empat kabupaten yaitu Aceh Besar, Pidie, Aceh Timur, dan Aceh Tamiang, sudah dilaksanakan sebelum puasa.

Direncanakan, bulan depan pihaknya akan menyisir wilayah barat dengan mengundang langsung PT. Jasindo, sebagai perusahaan asuransi yang ditunjuk pemerintah melaksanakan program itu. Dengan ada upaya yang lebih maksimal tersebut, pihaknya manargetkan cakupan asuransi hingga 6.000 hektare pada tahun ini.

Selain AUTP, Distanbun juga punya berbagai program. Dibidang sarana dan prasarana lebih fokus pada perluasanareal, seperti cetak sawah baru. Sampai saat ini program cetak sawah baru masih pola swakelola dengan Kodam. Kemudian ada pula kegiatan pengelolaan air irigasi. Ada tiga subsektor di dalamnya, yaitu rehab jaringan irigasi tersier, pembuatan embung sederhana, dan irigasi perpipaan. Selanjutnya, terkait fasilitasi penyediaan alat mesin pertanian. Di bidang sarana prasarana, khususnya di Alsintan prapanen, ada bantuan traktor roda empat, traktor planter, cultivator.

Pada tahun ini, ada juga program baru yang difokuskan ke bidang pertanian, yakni Kredit Usaha Rakyat (KUR). Ini adalah DISTANBUN fasilitas kredit yang dijamin oleh pemerintah melalui usaha segmen mikro, kecil, menengah,maupun koperasi yang masih unbankable. “Pada akhir bulan April lalu disampaikan oleh pusat ke kami bahwa ini merupakan program kerja sama dengan bank. Akan ada tenaga fasilitator petani swadaya yang sudah dilatih oleh Kementerian Pertanian untuk menjembatani. Untuk Aceh ada 32 orang.Mereka yang akan mendampingi petani di masing-masing wilayahnya, menghubungkan dengan sumber pembiayaan yakni bank. Program ini masih baru,”

tandasnya.(*) Download Tabloid Haba Tani Edisi 1 2018 disini