BERITA

Berhasil, Uji Varietas Padi Inpari 30 di Celala

person access_time7 hours ago chat_bubble_outlineKABUPATEN ACEH TENGAH

Berhasil, Uji Varietas Padi Inpari 30 di Celala

Meskipun varietas padi unggul yang sudah dilepas oleh Kementerian Pertanian jumlahnya cukup  banyak, namun hanya sedikit saja yang memiliki daya adaptatif untuk di tanam di dataran tinggi dengan elevasi diatas 1.000 meter diatas permukaan laut. Kondisi demikian, agak menyulitkan petani padi di wilayah Aceh Tengah yang rata-rata lahan sawahnya berada pada ketinggian di atas 1.000 mdpl. Namun demikian upaya pengujian varietas padi unggul terus dilakukan oleh Dinas Pertanian bersama jajaran penyuluh yang ada di daerah ini.

Sekitar 7 tahun yang lalu, varietas Inpari 28 Kerinci mulai di ujicobakan di beberapa wilayah seperti kecamatan Bintang, Lut Tawar dan Pegasing. Hasil uji varietas tersebut menunjukkan hasil yang cukup positif, benih padi unggul yang sumber benihnya dari dataran tinggi Kerinci, Jambi ini ternyata mampu beradaptasi pada lahan sawah yang ada di kabupaten Aceh Tengah. Produktivitas padi Inpari 28 yang rata-rata mencapai 6,5 – 7,5 ton per hektar ini membuktikan bahwa viarietas ini cocok ditanam di dataran tinggi seperti Aceh Tengah ini. Apalagi umur padi Inpari 28 yang relatif lebih pendek yaitu sekitar 3,5 bulan  dibandingkan padi lokal yang umur panennya sampai 6 bulan, memungkinkan varietas padi unggul ini ditanam dua kali dalam setahun, terutama pada daerah-daerah yang kecukupan airnya memadai. Itulah sebabnya dalam dua tahun terakhir, Dinas Pertanian setempat kemudian menggalakkan penanaman padi varietas ini untuk mendongkrak produksi padi dalam ranggka mempercepat swasembada pangan.

Varietas Inpari 30 diujicoba di Celala

Berhasil dengan penanaman Inpari 28, instansi teknis terkait juga terus melakukan uji varietas lainnya yang dinilai memiliki daya adaptatif pada dataran tinggi. Pengujian varietas ini dilakukan agar petani punya pilihan dalam menggunakan varietas unggul padi, bukan hanya bergantung pada satu varietas saja, sehingga ketika terjadi kelangkaan benih, petani masih bisa menggunakan benih varietas unggul lainnya.



Kali uni varietas padi unggul yang diujicobakan oleh Dinas Pertanian adalah varietas Inpari 30 yang merupakan pengembangan varietas Ipnpari 28. Varitas yang berasal dari hasil penelitian Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balibangkatan) ini juga ditengarai cukup ‘ramah’ untuk ditanam pada ketinggian diatas 1.000 mdpl.

Kecamatan Celala yang merupakan salah satu wilayah kecamatan di Aceh Tengah yang meiliki lahan sawah terluas ketiga setelah Linge dan Pegasing, kemudian dipilih sebagai lokasi ujicoba varietas Inpari 30 ini. Koordinator BPP Celala, Sadarmi, SP bersama jajaran penyuluh di BPP Celala kemudian ditunjuk sebagai pelaksana demplot uji varietas ini. Kampung Uning Berawang Ramung yang memiliki potensi lahan sawah dan ketersediaan air yang mencukupi sepanjang tahun, menjadi pilihan Sadarmi dan kawan-kawan untuk lokasi uji varietas ini.

Keseriusan Sadarmi dan kawan-kawan tidak sia-sia, menerapkan pola tanam jajar legowo (jarwo) super secara intensif, padi Inpari 30 yang ditanam pada awal bulan Desember 2017 lalu itu kemarin sudah memasuki masa panen. Kepala Dinas Pertanian, drh. Rahmandi, M Si bersama Danramil Silih Nara Kapten Inf. Iwan Mulyawan yang ikut dalam panen padi Inpari 30, Sabtu (3/3/2018) terlihat sumringah melihat hasil panen yang sangat menggembirakan ini. Dari hasil pengambilan sampel ubunan, diketahui uji varietas Inpari 30 di Celala ini mampu menghasilkan produksi 8,4 ton gabah kering panen (GKP), ini tentu sebuah produktivitas yang lumayan tinggi.

“Hasil panen Inpari 30 hari ini membuktikan bahwa varietas ini juga cocok dikembangkan di dagtaran tinggi seperti di daerah kita ini, tentu ini sesuatu yang bagus untuk mendongkrak hasil padi kita, mudah-mudahan varietas ini dapat kita kembangkan dalam sekala yang lebih luas, sehingga kita mempau mempercepat swasembada pangan, khususnya beras” ungkap Rahmandi yang juga merupakan salah satu kandidat calon Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Aceh ini.

Hal sama juga diungkapkan oleh Iwan Mulyawan, Danramil Silih Nara yang juga membawahi wilayah Celala. Sejak digulirkannya program peningkatan produksi padi, jagung dan kedele (Pajale), pihak TNI melalui para Babinsanya memang telah terlihat aktif bersinergi dengan para penyuluh pertanian dalam upaya meningkatakan produksi beras di daerah ini, termasuk dalam kegiatan uji varietas ini, pihaknya juga menurunkan para babinsa untuk ikut berperan aktif dalam kegiatan tersebut. Bahkan Iwan sendiri sering ‘terjun’ ke sawah untuk memberi motivasi kepada para petani.

“Alhamdulillah, kerja keras teman-teman penyuluh dan Babinsa membuahkan hasil yang sangat memuaskan, kami akan terus mendukung upaya Dinas Pertanian dalam rangka mempercepat swasembada pangan di daerah ini” ungkap mantan Danramil Isaq yang kini bertugas membawahi empat kecamatan yaitu Silih Nara, Celala, Ketol dan Rusip Antara ini.


Raut kebanggaan juga terlihat pada Sadarmi, Kepala BPP Celala yang dalam tiga tahun terakhir ini telah mampu mendongkrak produktifitas padi di wilayah binaannya ini.

“Kami merasa bersyukur, ujicoba yang kami lakukan berhasil dengan baik, ini membuktikan bahwa wilayah Celala sangat cocok ditanami padi varietas Inpari 30 ini, mudah-mudahan kedepannya Dinas Pertanian bisa menfasilitasi penyediaan benih Inpari 30 ini, karena kami melihat petani disini juga cukup antusias untuk mencioba varietas ini di lahan sawah mereka’ ungkap penyuluh yang punya hobi bernyanyi ini sambil tersenyum.

Total luas lahan sawah di kecamatan Celala, menurut data statistik pertanian adalah 669,3 hektar, jika seluruh lahan sawah bisa ditanami dengan varietas Inpari 30 dengan produktivitas rata-rata 8 ton per hektar saja, setiap tahun kecamatan ini mampu menghasilkan sekitar 5.352 ton padi atau setara 3.211 ton beras. Itu artinya sudah mampu mencukupi kebutuhan pangan seluruh warga kecamatan Celala, bahkan lebih. Tidak tertutup kemungkinan, jika varietas Inpari 30 ini terus dikebangkan, Celala akan menjadi salah satu daerah sentra produksi beras di kabupaten Aceh Tengah, dan itu otomatis akan mendongkrak kesejahteran petani disana.

Liputan : Fathan Muhammad Taufiq